Nikmatnya Mereguk Air Telaga Rasul - Ustadz Abdullah Zaen, Lc, M.A
- 08.51
- By faridan
- 0 Comments
PROLOG
Kejadian alam akhirat merupakan rentetan dari sekian peristiwa besar.
Dimulai dari ditiupnya sangkakala pertama untuk membinasakan seluruh makhluk,
dan diakhiri antara lain dengan disembelihnya kematian di suatu tempat antara
surga dan neraka.
Imam al-Qurthuby رحمه الله menjelaskan, setelah para manusia dibangkitkan
dari alam kubur, sebelum penghitungan amalan, dalam keadaan rasa dahaga yang
luar biasa, mereka digiring ke arah telaga yang dimiliki oleh para
nabi.1 Namun ternyata sesampainya
di sana tidak semua orang diberi karunia untuk minum air telaga tersebut.
Siapakah gerangan mereka yang beruntung mereguk segarnya air telaga para nabi,
dan siapa pulakah yang bernasib malang terkungkung dalam kehausan luar biasa
akibat terusir dari telaga-telaga tersebut? Bagaimana pulakah sifat telaga Nabi
kita Muhammad صلى الله عليه وسلم yang dikatakan sebagai telaga terbesar di
antara telaga-telaga para nabi lainnya?
TELAGA DI AKHIRAT ITU ADA
Keyakinan akan adanya telaga di hari kiamat merupakan suatu akidah
yang dilandasi hadits shahih bahkan mutawatir dan ijma’ para ulama. Imam
as-Suyuthy رحمه الله menyebutkan bahwa hadits yang menceritakan
adanya telaga di hari kiamat, telah diriwayatkan oleh lebih dari lima puluh
sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم.1
Telaga yang ada di padang mahsyar kelak jumlahnya bukanlah hanya satu
saja, namun jumlahnya banyak sekali sebanyak para nabi yang Allah utus ke muka
bumi. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا، وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ
أَكْثَرُ وَارِدَةً، وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ
وَارِدَةً
“Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga. Dan mereka saling
membanggakan siapakah yang telaganya paling banyak dikunjungi. Aku berharap
telagakulah yang paling banyak pengunjungnya (HR. Tirmidzi dan dinyatakan shahih
oleh al-Albany)
TELAGA NABI KITA MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
Telaga Rasulullah صلى الله عليه وسلم bermata air dari sebuah sungai di surga yang
bernama sungai al-Kautsar.1
Darinyalah gemercik air surga mengaliri telaga tersebut, melewati dua pancuran
istimewa, yang pertama terbuat dari emas dan yang lainnya dari
perak.
Beliau صلى الله عليه وسلم bercerita,
يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنْ الْجَنَّةِ؛ أَحَدُهُمَا
مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ
“Air mengalir dengan deras ke dalamnya melalui dua pancuran dari
surga. Salah satunya terbuat dari emas dan yang kedua dari perak (HR. Muslim
dari Tsauban)
Telaga Nabi kita صلى الله عليه وسلم berbentuk bujur sangkar dan amat sangat besar
luasnya. Beliau صلى الله عليه وسلم menggambarkan,
حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ, وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ
“Telagaku sepanjang perjalanan satu bulan. Ukuran seluruh sisinya
sama (HR. Muslim dari Abdullah bin ‘Amr)
Karena telaga Rasul صلى الله عليه وسلم paling banyak pengunjung yang akan mereguk
airnya, maka gelas-gelas yang tersedia di sana pun amatlah banyak. Beliau
صلى الله عليه وسلم menjelaskan,
أَكْوَابُهُ مِثْلُ نُجُومِ السَّمَاء
“Gelas-gelas telagaku sebanyak bintang-bintang di langit (HR. Ahmad
dari Ibnu Umar dan sanadnya dinilai shahih oleh al-Hakim)
Siapakah yang akan melayani kita tatkala minum dari telaga tersebut?
Yang melayani kita bukanlah sembarang orang, namun ia adalah orang paling mulia
di muka bumi ini! Ya, dialah kekasih kita Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Beliau bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ
“Aku akan mendahului kalian ke telaga dan melayani kalian (HR.
Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
Adapun mengenai sifat air yang ada dalam telaga tersebut, maka jauh
lebih menakjubkan dari segala keterangan di atas. Bagaimana tidak, sedangkan air
telaga Nabi kita صلى الله عليه وسلم lebih putih dari susu, lebih manis dari madu,
lebih dingin dari es dan lebih harum dibanding minyak misik. Barangsiapa meminum
satu teguk darinya; maka ia tidak akan pernah merasa haus
selamanya!
Adakah di muka bumi ini air yang memadukan keistimewaan-keistimewaan
tersebut di atas? Susu yang kita minum bisa saja berwarna putih, namun ia berbau
amis. Madu yang kita konsumsi memang manis, namun warnanya kurang menarik. Air
es memang menyegarkan, namun ia tidak beraroma wangi. Dan adakah air di dunia
ini, seajaib apapun, yang jika diminum seteguk, kita tidak akan merasakan dahaga
selamanya??
Air telaga rasul صلى الله عليه وسلم menggabungkan antara warna, rasa, kesegaran dan
aroma yang luar biasa!
Beliau صلى الله عليه وسلم menggambarkan sifat air
telaganya,
مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنْ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنْ الْمِسْكِ …
مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا
“Airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dibandingkan
minyak misik … Barang siapa minum darinya; niscaya ia tidak akan pernah merasa
dahaga selamanya! (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin
‘Amr)
Beliau juga menambahkan,
أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنْ الْعَسَل
“Airnya) lebih dingin dari es dan lebih manis dari madu (HR. Ahmad
dan sanadnya dinilai hasan oleh al-Mundziry)2
Begitulah sekelumit tentang telaga Nabi kita صلى الله عليه وسلم di padang mahsyar… Alangkah bahagianya
orang-orang yang diperkenankan untuk mencicipi air telaga tersebut, semoga kita
termasuk golongan beruntung itu. Dan alangkah sedihnya orang yang terhalang
untuk menikmatinya, semoga kita dihindarkan dari golongan yang amat malang
itu…
ORANG YANG TERHALANG DARI TELAGA RASUL صلى الله عليه وسلم
Ya, ada di antara umat manusia yang tidak diberi kesempatan untuk
mereguk telaga Rasul صلى الله عليه وسلم, padahal saat itu mereka berada dalam kondisi
amat dahaga! Siapakah mereka yang bernasib begitu naas?
Mereka adalah orang-orang kafir, kaum munafikin, orang-orang Islam
yang murtad dan juga para pelaku bid’ah! 1
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي، ثُمَّ
يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ … فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي!. فَيُقَالُ: إِنَّكَ
لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ! فَأَقُولُ: “سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ
بَعْدِي
“Akan datang ke (telaga)ku orang-orang yang kukenal dan mereka
mengenaliku, namun kemudian mereka terhalang dariku Akupun berkata, “Mereka
adalah bagian dariku! Dijawab, “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang
mereka ada-adakan setelah engkau (meninggal dunia) Aku berkata,
“Menjauhlah orang-orang yang mengubah-ubah (agamaku) sesudahku! (HR. Bukhari dan
Muslim dari Sahl bin Sa’d)
Setelah menukil berbagai pendapat para ulama mengenai siapakah yang
dimaksud dengan orang yang terhalang untuk minum dari telaga Rasul صلى الله عليه وسلم, Imam an-Nawawy رحمه الله menutup keterangannya dengan menukil perkataan
Imam Ibn Abdil Bar رحمه الله, “Setiap orang yang mengada-adakan hal baru
dalam agama, mereka termasuk golongan yang terusir dari telaga. Semisal
orang-orang Khawarij, Syi’ah dan segenap ahlul bid’ah. Begitu pula orang-orang
zalim yang melampaui batas dalam ketidakadilan dan mengaburkan kebenaran, serta
para pelaku dosa besar yang terang-terangan melakukannya di hadapan umum. Mereka
semua dikhawatirkan termasuk orang-orang yang dimaksud hadits ini. Wallahu
a’lam“.2
PELAJARAN BERHARGA
Pemaparan singkat di atas memberikan pada kita berbagai pelajaran
penting nan berharga. Di antaranya: betapa bahayanya beribadah dengan sesuatu
yang tidak diajarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Karena itulah, seorang muslim dituntut untuk bersikap cerdas dalam
menerima segala sesuatu, apalagi yang berkenaan dengan masalah agama. Beribadah
kepada Allah bukanlah dengan cara mengikuti tradisi yang umum di masyarakat atau
dengan mempertahankan warisan nenek moyang. Namun seharusnya beribadah itu
sesuai dengan aturan yang diajarkan panutan kita, nabi besar Muhammad
صلى الله عليه وسلم.
Bersikap kritislah tatkala disodori suatu amalan! Tanyakanlah dalil
yang melandasinya dari al-Qur’an maupun hadits Rasul صلى الله عليه وسلم. Kalaupun dikatakan amalan tersebut ada
haditsnya, pastikan bahwa hadits tersebut adalah shahih atau minimal hasan,
bukan hadits yang lemah, apalagi palsu.
Kita hidup di dunia hanya sekali, jangan sampai di kesempatan yang
tak terulang ini, kita melakukan amalan-amalan yang tidak jelas landasannya atau
bahkan sama sekali tidak ada landasannya. Sehingga justru malah amalan tersebut
ditolak alias tidak diterima oleh Allah ta’ala. Sebagaimana ditegaskan Nabi kita
صلى الله عليه وسلم dalam sabdanya,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ
رَدٌّ
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan
petunjukku, maka amalan itu akan ditolak HR. Muslim dari
Aisyah.
Semoga kita tidak termasuk golongan tersebut, amien ya Rabbal
‘alamin…[]
Daftar Pustaka:
Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Al-Buhûr az-Zâkhirah fî ‘Ulûm al-Akhirah karya as-Saffârîny.
At-Targhib wa at-Tarhib, karya al-Mundziry.
Fath al-Bary Syarh Shahih al-Bukhari, karya Ibn Hajar al-’Asqalany.
Kitab at-Tadzkirah bi Ahwal al-Mauta wa Umur
al-Akhirah, karya Abu Abdillah al-Qurthuby.
Musnad Ahmad.
Shahih Bukhari.
Shahih Muslim.
Sunan at-Tirmidzy.
Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawy.
Dan lain-lain.
ibnumajjah.com
ibnumajjah.com
0 komentar