Shalat Isya' Hari 4 Ramadan 1441 Di Masjidil Haram Dengan Imam Sheikh Shuraim
- 03.35
- By faridan
- 0 Comments
Tafsir Surat
Al-Infithar
Surat ini terdiri
dari 19 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah dan diturunkan sesudah
surat An-Naazi’aat. Al-Infithaar yang dijadikan nama untuk surat ini adalah
kata asal dari dari kata “Infatharat” (terbelah) yang terdapat pada ayat
pertama.
Kandungan Surat:
Surat ini engabarkan
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari kiamat, peringatan kepada menusia
agar tidak terpedaya sehingga durhaka kepada Allah, adanya malaikat yang selalu
menjaga dan mencatat segala amal perbuatan manusia, pada hari kiamat manusia tak
dapat menolong orang lain, hanya kekuasaan Allahlah yang berlaku pada waktu
itu.
Terjemah Surat Al
Infithar
Dengan menyebut nama
Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-5: Peristiwa
yang akan disaksikan pada hari Kiamat dan peristiwa setelahnya berupa hisab dan
pembalasan.
1. Apabila langit
terbelah,
2. dan apabila
bintang-bintang jatuh berserakan,
3. dan apabila
lautan dijadikan meluap,
4. dan apabila
kuburan-kuburan dibongkar,
5. (maka) setiap
jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.
Ayat 6-12: Celaan
terhadap manusia yang durhaka kepada Allah dan penjelasan bahwa Allah
Subhaanahu wa Ta'aala telah menugaskan para malaikat untuk mencatat amal
manusia.
6. Wahai manusia!
Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang
Maha Pengasih.
7. Yang telah
menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu
seimbang,
8. dalam bentuk apa
saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu.
9. Sekali-kali
jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.
10. Dan sesungguhnya
bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
11. Yang mulia (di
sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu),
12. Mereka
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat 13-19: Keadaan
orang-orang yang baik dan keadaan orang-orang yang buruk pada hari Kiamat.
13. Sesungguhnya
orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh)
kenikmatan,
14. dan sesungguhnya
orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.
15. Mereka masuk ke
dalamnya pada hari pembalasan.
16. Dan mereka tidak
mungkin keluar dari neraka itu.
17. Dan tahukah kamu
apakah hari pembalasan itu?
18. Sekali lagi,
tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
19. (Yaitu) pada
hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan
pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
TAFSIR SURAT
AL-INFITHAR
Allah Ta’ala
berfirman: idzas samaa-ung fatharat (“Apabila langit terbelah.”) Infatharat (“انفَطَرَتْ“) artinya انشقت, yaitu pecah. Sebab langit
nanti pada hari kiamat itu akan pecah., wa idzal kawaakibun tatsarat (“Dan
apabila bintang-bintang jatuh berserakan.”) Intatsarat (“انتَثَرَتْ“) artinya “تساقطت“, artinya berjatuhan.
Jadi Allah mengatakan bahwa bintang-bintang itu akan berjatuhan ke bumi. Ini
menunjukkan bahwa bumi itu memang yang paling rendah, maka ketika hari kiamat
terjadi bintang-bintang itu akan berjatuhan. Wa idzal bihaaru fujjirat (“Dan
apabila lautan dijadikan meluap.”) ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu
‘Abbas: “Allah melupakan air itu sebagaian atas sebagian lainnya.” Al-Hasan
mengatakan: “Allah meluapkan air itu dan setelah itu lenyaplah air itu.” Wa
idzal qubuuru bu’tsirat (“Dan apabila kuburan-kuburan itu dibongkar.”) Ibnu
‘Abbas mengatakan: “Yakni dikeluarkan.” As-Suddi mengemukakan: “Kuburan itu
berserakan dan bergerak sehingga keluarlah orang yang ada di dalamnya.” ‘Alimat
nafsum maa qaddamat wa-akhkharat (“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang
telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.”) maksudnya, yang ini sampai pada yang
ini [apabila melakukan ini akan berakibat begini].
Firman Allah: yaa
ayyuHal ingsaanu maa gharraqa birabbikal kariim (“Hai manusia, apakah yang
telah memperdayakanmu [berbuat durhaka] terhadap Rabb-mu Yang Mahapemurah.”)
yang demikian itu merupakan ancaman, tidak seperti yang dikira sebagian orang,
bahwa hal itu merupakan bimbingan kepada jawaban, di mana Rabb Yang Mahapemurah
berfirman, sehingga ada orang di antara mereka yang mengatakan bahwa dia telah
diperdaya oleh kemurahan-Nya. Tetapi makna di dalam ayat ini ialah, apa yang
telah memperdaya kalian, hai anak Adam, sehingga kalian berbuat durhaka kepada
Rabb kalian Yang Mahapemurah, yakni Mahaagung, sehingga kalian berani berbuat
maksiat kepada-Nya dan kalian membalas dengan sesuatu yang tidak selayaknya.
Ibnu Abi Hatim
meriwayatkan bahwa ‘Umar pernah mendengar seseorang yang membaca: yaa ayyuHal
ingsaanu maa gharraqa birabbikal kariim, maka ‘Umar pun berkata:”Kebodohan.”
Dan firman-Nya:
alladzii khalaqaka fasawwaaka fa-‘adalaka (“Yang telah menciptakanmu, lalu
menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan [susunan tubuh]mu seimbang.”)
maksudnya, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Rabb Yang Mahapemurah, Dan
firman-Nya: alladzii khalaqaka fasawwaaka fa-‘adalaka (“Yang telah menciptakanmu,
lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan [susunan tubuh]mu seimbang.”)
yakni menjadikanmu normal, tegak, mempunyai tubuh yang seimbang, dengan
tampilan dan bentuk yang sangat baik. Imam Ahmad meriwayatkan dari Bisyir bin
Jahsy al-Qurasyi bahwa Rasulullah sholalluhu'alaihi wasallam pada suatu hari
pernah meludah di telapak tangannya, lalu di atasnya beliau meletakkan jari
beliau dan kemudian bersabda: “Allah telah berfirman: ‘Hai anak Adam, bagaimana
bisa engkau menilain Diri-Ku lemah padahal Aku telah menciptakanmu seperti ini?
Sehingga jika Aku telah menyempurnakan dirimu dan membuatmu seimbang, maka
engkau berjalan di antara ummat manusia. Dan bumi akan menguburmu. Lalu engkau
mengumpulkan [kekayaan] dan engkau sangat kikir sehingga apabila nafas sudah
mendesak sampai kerongkongan, engkau baru mengatakan: Aku akan bersedekah dan
kapan waktunya bersedekah?’” demikian hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
Firman Allah: fii
ayyi shuuratim maa syaa-a rakkabaka (“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki,
Dia menyusun tubuhmu.”) Mujahid mengatakan: “Menyerupai siapa: bapak, ibu,
paman dari ibu atau paman dari bapak?” dan dalam kitab ash-shahihain disebutkan
dari Abu Hurairah, bahwasannya ada seseorang yang berkata: “Wahai Rasulallah,
sesungguhnya istriku telah melahirkan seorang anak berkulit hitam.” Beliau
bertanya: “Apakah engkau memiliki seekor unta?” “Ya.” Jawabnya. Beliau
bertanya: “Apa warnanya?” “Merah.” Jawabnya. Beliaupun bertanya lagi: “Adakah
di antaranya yang berwarna keabu-abuan?” Dia menjawab: “Ya, ada.” Beliau
bersabda: “Lalu darimana warna itu dimilikinya?” Orang itu menjawab: “Mungkin
karena adanya kecenderungan gen.” Beliau pun bersabda: “Dan bayi inipun
barangkali karena kecenderungan gen.”
Dan mengenai firman
Allah: fii ayyi shuuratim maa syaa-a rakkabaka (“Dalam bentuk apa saja yang Dia
kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”) ‘Ikrimah mengatakan: “Jika berkehendak, Dia
akan menciptakan dalam bentuk kera, dan jika Dia mau dia akan menciptakan dalam
bentuk babi.
Firman Allah: Kallaa
bal tukadzdzibuuna biddiin (“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan
hari pembalasan.”) maksudnya, sebenarnya yang membuat kalian menentang Allah
Yang Mahapemurah dan melawan-Nya dengan berbuat maksiat itu adalah kedustaan
yang ada di dalam hati kalian terhadap hari kiamat, pembalasan dan perhitungan.
Dan firman-Nya lebih
lanjut: wa inna ‘alaikum lahaafidhiina kiraamang kaatibiina ya’lamuuna maa
taf’aluun (“Padahal sesungguhnya bagimu ada [malaikat-malaikat] yang mengawasi
[pekerjaanmu], yang mulia [di sisi Allah] dan yang mencatat
[pekerjaan-pekerjaanmu itu], mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) yakni,
dan sesungguhnya pada kalian ada malaikat yang senantiasa menjaga lagi mulia.
Oleh karena itu, janganlah kalian membalas mereka dengan berbagai perbuatan
buruk, dan sesungguhnya mereka akan menulis semua amal perbuatan kalian.
Allah memberitahukan
tentang akhir bagi orang-orang yang berbuat baik, yaitu berupa kenikmatan.
Yakni mereka yang mentaati Allah dan tidak membalasnya dengan berbagai perbuatan
maksiat. Setelah itu Dia juga menceritakan tentang kesudahan bagi orang-orang
yang berbuat kejahatan, yaitu berupa neraka dan adzab yang abadi. Oleh karena
itu, Dia berfirman: yash-launaHaa yaumaddiin (“Merek masuk ke dalamnya pada
hari pembalasan.”) yakni hari perhitungan, pemberian balasan, dan hari kiamat.
Wa maa Hum ‘anHaa bighaa-ibiin (“Dan mereka sekali-sekali tidak dapat keluar
dari neraka itu.”) maksudnya mereka tidak akan lepas dari adzab meski hanya
sebentar saja, dan tidak juga mereka diringankan dari adzab-Nya, serta tidak
juga dikabulkan permohonan mereka agar dimatikan saja atau dibiarkan
beristirahat meski hanya satu hari saja.
Firman Allah: wa maa
adraaka maa yaumuddiin (“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”) merupakan
pengagungan terhadap keadaan pada hari kiamat. Kemudian Dia mempertegas dengan
firman-Nya: tsumma maa adraaka maa yaumuddiin (“Sekali lagi, tahukah kamu
apakah hari pembalasan itu?” selanjutnya Dia menafsirkannya melalui firman-Nya:
yauma laa tamliku nafsul linafsing syai-aa (“[Yaitu] hari [ketika] seseorang
tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain.”) maksudnya tidak ada
seorangpun yang mampu memberikan manfaat kepada orang lain dan tidak juga
melepaskannya dari apa yang telah dialaminya kecuali jika Allah mengizinkan
kepada siapa yang dikehendakinya dan diridlai-Nya. Oleh karena itu Dia
berfirman: wal amru yauma-idzil lillaaH (“Dan segala urusan pada hari itu dalam
kekuasaan Allah.”)
yauma laa tamliku
nafsul linafsing syai-aa. wal amru yauma-idzil lillaaH (“[Yaitu] hari [ketika]
seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan
pada hari itu dalam kekuasaan Allah.”) Qatadah mengungkapkan: “Demi Allah, semua
urusan pada hari itu hanya berada di tangan Allah semata, tidak ada seorangpun
pada hari itu yang dapat menentang keputusan-Nya.”
(https://assunnah-qatar.com/)Raja Salman Izinkan Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Dilakukan Terbatas
- 07.10
- By faridan
- 0 Comments
Imam: Sheikh Abdullah Juhani
Raja Salman
akhirnya mengizinkan pelaksanaan shalat tarawih di dua masjid suci umat islam
yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di tengah langkah-langkah pencegahan
karena penyebaran virus corona, Rabu (22/4/2020).
Namun
pelaksanaan shalat tarawih di masjid suci Makkah dan Madinah itu dilakukan
tanpa kehadiran publik.
Hal itu sebagaimana
diberitakan Reuters, Rabu (22/4/2020).
Sementara
itu, diikutip dari Gulf News, Rabu (22/4/2020), pelaksanaan tarawih secara
terbatas di dua masjid tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan terkait
penyebaran virus corona.
Alih-alih 20
rekaat, shalat tarawih tersebut akan dipersingkat menjadi 10 rekaat.
Shalat
tarawih dilakukan oleh para Syekh dan staf dari 2 masjid tersebut.
Selain itu
pelaksanaan iktikaf atau (berdiam diri) di masjid pun ditiadakan.
Jam malam diubah
Selain itu,
Arab Saudi juga berencana mengurangi jam malam yang diberlakukan di beberapa
kota selama bulan Ramadhan.
Hal itu agar
orang-orang punya lebih banyak waktu untuk berbelanja untuk kebutuhan-kebutuhan
penting mereka.
Jam malam
selama bulan Ramadhan di kota-kota yang memberlakukan jam malam, diubah menjadi
pukul 9 pagi hingga 5 sore.
Sementara
itu di kota yang memberlakukan lockdown atau kuncian total, penduduk hanya
diperbolehkan meninggalkan rumah untuk membeli bahan makanan dan pasokan medis.
Hanya satu
orang yang diperbolehkan pergi dengan seorang sopir.
Sebelumnya,
Badan keagamaan tertinggi Arab Saudi, the Council of Senior Scholars, mendesak
umat Islam di seluruh dunia untuk beribadah di rumah selama bulan Ramadhan.
Dilansir
Reuters, Minggu (19/4/2020), Grand Mufti kerajaan Sheikh Abdulaziz Al al-Sheikh
mengungkapkan, ibadah muslim selama Ramadhan dan Idul Fitri harus dilakukan di
rumah jika wabah virus corona terus berlanjut.
https://aceh.tribunnews.com/
Enam
Bekal Menyambut Puasa Ramadhan
Saat ini sudah
memasuki pertengahan bulan Rajab yang sebentar lagi akan berakhir dan menuju
bulan Sya’ban. Bulan Ramadhan yang sangat mulia dan ditunggu-tunggu oleh kaum
muslimin di penjuru dunia. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim harus
mempersiapkan dengan baik dan matang. Baik secara rohani ataupun jasmani. Agar
hasil yang kita tanam pada bulan Ramadhan berbuah dengan manis ketika diakhirat
nanti. Kita juga harus berlomba-lomba
dalam mengejar kebaikan-kebaikan apalagi ketika bulan Ramadhan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 183)
Menurut perhitungan
hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, awal Ramadhan
jatuh pada 24 April 2020. Ini berarti tinggal beberapa hari lagi menuju bulan
yang penuh berkah ini. Berikut beberapa persiapan yang harus disiapkan sebelum
bulan Ramadhan:
Pertama, bagi yang mempunyai hutang puasa harus
segera dibayar atau diganti. Sebelum bulan Ramadhan tiba. Seperti dalam firman
Allah Ta’ala:
أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ
سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ
فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ
وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Ayyāmam ma'dụdāt, fa
mang kāna mingkum marīḍan au 'alā safarin fa 'iddatum min ayyāmin ukhar, wa
'alallażīna yuṭīqụnahụ fidyatun ṭa'āmu miskīn, fa man taṭawwa'a khairan fa huwa
khairul lah, wa an taṣụmụ khairul lakum ing kuntum ta'lamụn
Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari yang
tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang
berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui. (QS Al-baqarah
: 184)
Kedua, perbanyaklah puasa untuk menjadi
latihan ketika bulan Ramadhan. Terutama di bulan Sya’ban.
Ketiga, atur pola makan sehat, perbanyak
olahraga, konsumsi makanan-makanan sehat yang membuat daya tahan tubuh kita
kuat. Sehingga tidak menganggu aktivitas puasa kita.
Keempat,
perbanyak tilawah untuk melatih
ketika bulan Ramadhan nanti. Dan Al-Qur’an yang akan menjadi syafa’aat kita di
hari kiamat nanti.
Kelima, melatih
kesabaran dalam diri. Seperti sabar menahan emosi, sabar ketika diuji,
sabar dalam menghadapi masalah ataupun musibah. Dan Allah selalu bersama
orang-orang yang sabar. Allah Berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ
وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Hai Orang-orang yang beriman,
jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar” (QS Al-baqarah : 153)
Keenam, buatlah program-program kegiatan bulan
Ramadhan agar ketika bulan Ramadhan tiba kita sudah mempersiapkan
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk mengisi bulan Ramadhan dengan hal-hal
positif.
Segala puji bagi
Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,
keluarga dan sahabatnya.
Tinggal menunggu
hitungan hari kita akan memasuki bulan penuh barokah, Ramadhan mubarok. Tidak
terlambat memang, walau hal ini baru rumaysho.com sampaikan karena mengingat
beberapa waktu lalu website dalam masa rekontruksi server. Kita akan melihat
tiga bekal yang semestinya disiapkan sebelum memasuki bulan Ramadhan yang kami
simpulkan dari wejangan para ulama. Tiga bekal tersebut adalah:
Pertama:
Bekal ilmu.
Bekal ini amat utama
sekali agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar
bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا
يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa
yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan
daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf, hal.
15). Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa
saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang
banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, kita bisa jadi
hanya dapat lapar dan dahaga saja saat puasa. Tidak tahu jika dzikir
bareng-bareng entah sehabis shalat lima waktu atau di antara tarawih atau
sehabis witir, itu tidak ada dalilnya, akhirnya yang didapat hanya rasa capek
karena tidak menuai pahala. Ingatlah syarat diterimanya ibadah bukan hanya
ikhlas. Ibadah bisa diterima jika mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, alias ada dalilnya. Namun demikianlah masyarakat kita kadang
beribadah asal-asalan, asal ‘ngikut’, yang penting ikhlas katanya, padahal
ibadah yang dilakukan tidak ada dalil dan tuntunannya. Apa saja kata pak Kyai,
pokoknya ‘manut’? Wallahul musta’an.
Kedua: Perbanyak
taubat.
Inilah yang
dianjurkan oleh para ulama kita. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, perbanyaklah
taubat dan istighfar. Semoga di bulan Ramadhan kita bisa menjadi lebih baik.
Kejelekan dahulu hendaklah kita tinggalkan dan ganti dengan kebaikan di bulan
Ramadhan. Ingatlah bahwa syarat taubat yang dijelaskan oleh para ulama
sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah, “Menghindari dosa untuk
saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di
masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia,
maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al Qur’an Al
‘Azhim, 14:61). Inilah yang disebut dengan taubat nashuha, taubat yang tulus
dan murni. Moga Allah menerima taubat-taubat kita sebelum memasuki waktu
barokah di bulan Ramadhan sehingga kita pun akan mudah melaksanakan kebaikan.
Di antara do’a untuk
meminta segala ampunan dari Allah adalah do’a berikut ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى
وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى
“Allahummagh-firlii
khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni.
Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika
‘indii” (Ya Allah,
ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku
dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah,
ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan
ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah
segala kesalahan yang kulakukan) (HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no.
2719).
Catatan penting yang
mesti kami sampaikan. Mungkin selama ini tersebar sms maaf-maafkan di
tengah-tengah kaum muslimin menjelang Ramadhan. Ingat bahwa meminta maaf itu
memang disyariatkan terhadap sesama
apalagi ketika berbuat salah, betul memang bentuk taubatnya adalah minta
dimaafkan. Namun bukan jadi kelaziman setiap orang harus minta maaf, padahal
tidak ada salah apa-apa. Apalagi kelirunya lagi jika hal ini dianggap kurang
afdhol jika tidak dijalani menjelang Ramadhan. Hanya Allah yang beri taufik.
Ketiga:
Banyak memohon kemudahan dari Allah.
Selain dua hal di
atas, kita juga harus pahami bahwa untuk mudah melakukan kebaikan di bulan
Ramadhan, itu semua atas kemudahan dari Allah. Jika kita terus pasrahkan pada
diri sendiri, maka ibadah akan menjadi sulit untuk dijalani. Karena diri ini
sebenarnya begitu lemah. Oleh karena itu, hendaklah kita banyak bergantung dan
tawakkal pada Allah dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Terus memohon
do’a pada Allah agar kita mudah menjalankan berbagai bentuk ibadah baik shalat
malam, ibadah puasa itu sendiri, banyak berderma, mengkhatamkan atau mengulang
hafalan Qur’an dan kebaikan lainnya.
Do’a yang bisa kita
panjatkan untuk memohon kemudahan dari Allah adalah sebagai berikut.
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ
سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
“Allahumma
laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada
kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan
(kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah]. (Hadits ini
dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3:255. Dikeluarkan pula oleh Ibnu
Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah).
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ
الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ
“Allahumma
inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot.” (Ya Allah, aku memohon pada-Mu agar
mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran). (HR. Tirmidzi no.
3233, shahih menurut Syaikh Al Albani).
Semoga Allah
menjadikan Ramadhan kita lebih baik dari sebelumnya. Marilah kita menyambut
Ramadhan mubarok dengan suka cita, diiringi ilmu, taubat dan perbanyak do’a
kemudahan.
Alhamdulillahilladzi
bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Wallahu waliyyut taufiq.
(www.rumaysho.com)
Apa hukum mengucapakan selamat idul fitri? Bagaimanakah hukum saling berjabat tangan dan berpelukan setelah shalat ied?
Alhamdulillah, Terdapat riwayat yang datang dari para sahabat radhiyallahu’anhum bahwasanya mereka saling mengucapkan selamat di hari raya dengan ucapan, تقبل اللهمنا ومنكم “Taqabbalallahu minn wa minkum” (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian).
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi shalallahu’alaihi wasallam mengucapkan ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’ ketika saling bertemu di hari Idul Fitri.”
Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata tentang riwayat ini, “Sanadnya hasan.”
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi shalallahu’alaihi wasallam mengucapkan ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’ ketika saling bertemu di hari Idul Fitri.”
Al-Hafidz (Ibnu Hajar) berkata tentang riwayat ini, “Sanadnya hasan.”
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tidak mengapa hukumnya bila seseorang mengucapkan kepada saudaranya saat Idul Fitri, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’.” Demikian yang dinukil Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat di hari raya sebagaimana banyak diucapkan oleh orang-orang? Seperti ‘indaka mubarak (semoga engkau
memperoleh barakah dihari Idul Fitri) dan ucapan yang senada. Apakah hal ini
memiliki dasar hukum syariat ataukah tidak? Jika memiliki dasar hukum syariat
bagaimana seharusnya ucapan yang benar?”
memperoleh barakah dihari Idul Fitri) dan ucapan yang senada. Apakah hal ini
memiliki dasar hukum syariat ataukah tidak? Jika memiliki dasar hukum syariat
bagaimana seharusnya ucapan yang benar?”
Beliau rahimahullah menjawab,
“ Adapun hukum tahniah (ucapan selamat) dihari raya yang diucapkan satu dengan yang lainnya ketika selesai shalat ied
seperti “Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik” (Semoga Allah
seperti “Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik” (Semoga Allah
menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah
menyempurnakannya atasmu), dan yang semisalnya, telah diriwayatkan dari
sebagian sahabat bahwasanya mereka melakukannya dan para imam memberi
keringanan perbuatan ini seperti Imam Ahmad dan yang lainnya. Akan tetapi Imam
Ahmda berkata, “Aku tidak akan memulai mengucapkan selamat kepada siapa pun.
Namun jika ada orang yang memberi selamat kepadaku akan kujawab. Karena
menjawab tahiyyah (penghormatan) adalah wajib. Adapun memulai mengucapkan selamat kepada oranglain maka bukanlah bagian dari sunnah yang dianjurkan dan bukan pula sesuatu yang dilarang dalam syariat. Barangsiapa yang melakukannya maka ia memiliki qudwah (teladan) dan orang yang meninggalkan pun juga memiliki qudwah (teladan). Wallahu a’lam. (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/228)
menyempurnakannya atasmu), dan yang semisalnya, telah diriwayatkan dari
sebagian sahabat bahwasanya mereka melakukannya dan para imam memberi
keringanan perbuatan ini seperti Imam Ahmad dan yang lainnya. Akan tetapi Imam
Ahmda berkata, “Aku tidak akan memulai mengucapkan selamat kepada siapa pun.
Namun jika ada orang yang memberi selamat kepadaku akan kujawab. Karena
menjawab tahiyyah (penghormatan) adalah wajib. Adapun memulai mengucapkan selamat kepada oranglain maka bukanlah bagian dari sunnah yang dianjurkan dan bukan pula sesuatu yang dilarang dalam syariat. Barangsiapa yang melakukannya maka ia memiliki qudwah (teladan) dan orang yang meninggalkan pun juga memiliki qudwah (teladan). Wallahu a’lam. (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/228)
Syaikh Ibnu Ustaimin ditanya, “Apa hukum tahniah (ucapan selamat) di hari raya? Apakah ada bentuk ucapan tertentu?”
Beliau rahimahullah menjawab, “Hukum tahniah (ucapan selamat)
di hari raya adalah boleh dan tidak ada bentuk ucapan tertentu yang dikhususkan. Karena (hukum asal-pen) setiap adat kebiasaan yang dilakukan orang itu boleh selama bukan perbuatan dosa.”
Dalam kesempatan lain beliau rahimahullah juga ditanya, “Apa hukum berjabat tangan, berpelukan dan saling mengucapkan selamat hari raya ketika selesai shalat ied?”
Beliau rahimahullah menjawab, “Hukum semua perbuatan ini tidaklah mengapa. Karena orang yang melakukanya tidak bermaksud untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Melainkan hanya sekedar melakukan adat dan tradisi, saling memuliakan dan menghormati. Karena
selama adat tersebut tidak bertentangan dengan syariat maka hukumnya boleh.” (Majmu’Fatawa Ibni Utsaimin, 16/208-210)
Artikel Muslimah.or.id
Selesaikan Tarawih dan Witirmu Bersama Imam
“Jangan ngacir sebelum witir bersama imam saat shalat tarawih”
Ungkapan di atas terlontar sebab sering kita perhatikan ada sebagian kaum muslimin meninggalkan jamaah ketika shalat tarawih telah selesai, mereka pergi dan tidak ikut shalat witir bersama imam karena hendak melaksanakan shalat malam lagi. Mereka berkeyakinan jika sudah shalat witir maka tidak boleh mengerjakan shalat malam lagi karena witir merupakan penutup salat malam.
Jangan Sampai Kehilangan Pahala Shalat Semalam Suntuk
Meninggalkan shalat witir bersama imam adalah hal yang kurang tepat karena jika tidak ikut shalat sampai selesai bersama imam maka akan kehilangan keutamaan yang besar berupa pahala salat semalam suntuk.
Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,
ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻡَ ﻣَﻊَ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑَ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﻟَﻴْﻠَﺔ
“Barang siapa salat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).” [1]
Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,
ﺇﺫﺍ ﺻﻠﻴﺖ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ : ﻓﺎﻷﻓﻀﻞ ﺃﻥ ﺗﻮﺗﺮ ﻣﻌﻪ ؛ ﻟﺘﺤﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ
“Jika engkau salat tarawih bersama imam maka lebih afdal jika engkau salat witir bersamanya agar mendapat pahala yang sempurna (berupa pahala salat semalam suntuk).” [2]
Dalil Shalat Witir Sebagai Penutup Shalat Malam
Memang benar, ada hadits yang zahir-nya adalah memerintahkan agar menjadikan witir sebagai akhir shalat/penutup shalat malam kita. Yaitu hadits,
ﺍﺟْﻌَﻠُﻮﺍ ﺁ ﺧِﺮَﺻَﻠَﺎ ﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭِﺗْﺮًﺍ
“Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah shalat ganjil (witir)” [3]
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa ini hanyalah suatu anjuran bukan suatu keharusan. Beliau berkata
ﻭﺍﻟﻮﺗﺮ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻓﻀﻞ . ﻭﻣﻦ ﺃﻭﺗﺮ ﺃﻭﻟﻪ ﻓﺤﺴﻦ , ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ ﺟﺎﺋﺰﺓ , ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﻭﺗﺮﺍً ﺁﺧﺮ ﺍﻫـ .
“Witir di akhir malam lebih afdal. Barangsiapa yang witir di awal malam termasuk kebaikan juga, shalat malam lagi setelah witir hukumnya boleh dan tidak perlu diulang witir lagi (witir dua kali).” [4]
Demikian juga penjelasan An-Nawawi, beliau berkata,
ﺇﺫﺍ ﺃﻭﺗﺮ ﺛﻢ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﺃﻡ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺟﺎﺯ ﺑﻼ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﺍﻟﻮﺗﺮ
“Jila seseorang telah mengerjakan shalat witir kemudian ingin mengerjakan shalat sunah lagi pada malam harinya, hukumnya boleh dan tidak makruh, tetapi tidak mengulang salat witir lagi.” [5]
Selepas Witir Bersama Imam Masih Boleh Shalat Malam Tanpa Mengulang Witir
Jika sudah mengerjakan shalat witir memang tidak boleh mengulangi salat witir kembali karena tidak boleh ada dua kali shalat witir dalam satu malam, akan tetapi masih boleh shalat malam secara umum.
Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,
ﻻَ ﻭِﺗْﺮَﺍﻥِ ﻓِﻲْ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ
“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [6]
Demikian semoga beemanfaat
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi
[2] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah jilid II 6/54
[3] Muttafaqqun ‘alaihi
[4] Muhallaa 2/92-93
[5] Al-Majmu’ Syarh Al-Muahadzab 3/512
[6] HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban
Sholat Tarawih Hari ke 6 Ramadhan 1440H di Masjidil Haram dengan imam Sheikh Abdullah al Juhany
- 10.41
- By faridan
- 0 Comments
Syaikh Abdullah Awad al-Juhani
Syaikh Abdullah Awad al-Juhani adalah salah seorang imam Masjidil
Haram, Makkah. Beliau memiliki gelar doktorat (Ph.D) dari Universitas Ummul
Qura, Makkah.
Syaikh Abdullah Awad al-Juhany mulai memimpin shalat tarawih di
Makkah pada tahun 2008, dan beliau dikenal dengan suaranya yang sangat
emosional dan membawa perasaan pendengarnya menjadi syahdu. Suara qiro’ahnya
telah direkam dan tersebar ke berbagai penjuru dunia.
Beliau lahir di Makkah pada tahun 1976 M, lahir di keluarga yang
sangat perhatian dengan agama membuatnya sangat mencintai al-Qur’an dan
mempelajarinya sejak usia dini. Di usianya yang muda beliau mengikuti berbagai
kompetisi pembacaan al-Qur’an dan memenangkan posisi pertama dalam perlombaan
tilawah al-Qur’an internasional yang dilaksanakan di Makkah.
Pada pembahasan kali ini, kita
akan mengkaji bersama mengenai keutamaan Ramadhan dan puasa di dalamnya. Semoga
Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.
Keutamaan
Bulan Ramadhan
Ramadhan
adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan yang
mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini
pula Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)
bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)
Ibnu Katsir rahimahullah tatkala
menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan,”(Dalam ayat ini) Allah ta’ala memuji bulan
puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian
karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari
bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah
menurunkan kitab ilahiyah lainnya
pada para Nabi ‘alaihimus salam.” (Tafsirul Qur’anil Adzim,
I/501, Darut Thoybah)
Setan-setan
Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika
Ramadhan Tiba
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila
Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun
dibelenggu.” (HR. Muslim)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Pintu-pintu
surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal saleh dikerjakan sekaligus
untuk memotivasi umat islam untuk melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka
ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang yang beriman.
Setan-setan diikat kemudian dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan
selain Ramadhan.” (Majalis Syahri
Ramadhan, hal. 4, Wazarotul Suunil Islamiyyah)
Terdapat
Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan
Pada bulan Ramadhan terdapat suatu
malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam
kemuliaan). Pada malam inilah -yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat
diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya
Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan
tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 1-3)
Dan Allah ta’ala juga berfirman,
“Sesungguhnya
Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah
yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3)
Ibnu Abbas, Qotadah dan
Mujahid mengatakan bahwa malam yang diberkahi tersebut adalah malam lailatul qadar. (Lihat Ruhul Ma’ani, 18/423, Syihabuddin
Al Alusi)
Bulan
Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Doa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya
Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di
bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti
dikabulkan.” (HR. Al Bazaar sebagaimana dalam Mujma’ul Zawaid dan Al Haytsami
mengatakan periwayatnya tsiqoh/terpercaya.
Lihat Jami’ul Ahadits,
Imam Suyuthi)
Keutamaan
Puasa
1.
Puasa adalah Perisai
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Puasa
adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.”
(HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’)
2.
Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala yang Tak Terhingga
3.
Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan
4.
Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah daripada Bau
Misik/Kasturi
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah
untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan
membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa
maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang
yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’.
Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang
yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau
misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka
mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira
karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)
5.
Puasa akan Memberikan Syafaat bagi Orang yang Menjalankannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Puasa
dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat
nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan
nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’.
Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari,
karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau
bersabda, ‘Maka syafaat
keduanya diperkenankan.’” (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani,
periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Mujma’ul Zawaid)
6.
Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan
karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti
diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)
7.
Bagi Orang yang Berpuasa akan Disediakan Ar Rayyan
Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang
bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk
surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu
tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang
berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun
yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk,
pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu
tersebut”.(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga pembahasan di atas dapat
mendorong kita agar lebih bersemangat untuk mendapatkan keutamaan berpuasa di
bulan Ramadhan dengan cara menghiasi hari-hari di bulan yang penuh berkah
tersebut dengan amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang
mulia.
Alhamdulillahilladzi
bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa
‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Maroji’:
Shifat Shaum Nabi fi Ramadhan, Syaikh Salim Al Hilali & Syaikh Ali Hasan Al Halabi dengan sedikit tambahan
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Abu Sa’ad
Artikel www.muslim.or.id
Muroja’ah: Ustadz Abu Sa’ad
Artikel www.muslim.or.id



