Gua hira yang berada di puncak Jabal Nur Makkah selalu
ramai diziarahi umat Islam dari seluruh dunia.
Jabal Nur (bukit cahaya) dan Gua Hira menjadi saksi
turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Di tempat inilah Rasulullah
SAW menerima perintah iqra’ (membaca) sekaligus menandai dimulainya periode
kenabian (nubuwwah).
Gua Hiro (Hira), terletak di puncak Jabal Nur (Bukit
Cahaya), di wilayah Hijaz, Saudi Arabia. Berjarak sekitar 6 Km di sebelah timur
Kota Makkah Al-Mukarromah. Jabal Nur ini terdiri atas bebatuan hitam yang
tajam. Tingginya sekitar 200 meter dengan puncak berbentuk cembung. Gua Hira
ini terletak sekitar 40 meter di bawah pucuk Jabal Nur.
Selanjutnya……….
https://roadmakkah.blogspot.com/2019/07/gua-hira-tempat-nabi-muhammad-saw_28.html
Masjidil haram terletak di Makkah, ia adalah sebuah kota
di Jazirah Arab 330 meter dari permukaan laut. Sejarah perkembangannya dimulai
pada masa Ibrahim al Khalil dan putranya Isma’il –‘alaihimas salam-, di kota
tersebut Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan, juga menjadi
tempat turunnya wahyu pertama kali, dari sanalah cahaya Islam bersinar, di sana
juga terdapat Masjidil haram, ia merupakan masjid dibagun pertama kali untuk
manusia di muka bumi, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat
beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan
menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS. Ali Imran: 96)
Selanjutnya……….
Banyak jamaah Haji & Umrah yang tidak mengetahui
jumlah pintu dan nama2nya dari Masjidil Haram. Simak berikut ulasannya:
Masjid Al-Haram merupakan salah satu dari tiga masjid
suci. Di masjid al-haram terdapat kabah, yang merupakan kitab suci umat Islam.
Masjidil Haram memiliki banyak pintu. Sedikitnya ada
empat pintu utama dan 45 pintu biasa. Masing-masing pintu memiliki nama. Karena
banyaknya jumlah pintu tersebut, tak heran jika banyak jamaah yang tersesat
ketika keluar dari Masjidil Haram.
Selanjutnya..........
https://roadmakkah.blogspot.com/2019/07/nama-nama-pintu-masjid-al-haram.html
Pengelola Masjid al-Haram, Makkah, menyediakan layanan
khutbah shalat Jumat berbahasa Indonesia yang bisa disimak melalui saluran
radio.
Berdasarkan pengamatan Antara di Masjid al-Haram, Makkah,
Jumat (3/8), amalan shalat Jumat diikuti jamaah yang telah datang beberapa jam
sebelum shalat dimulai. Bahkan, beberapa orang di antaranya datang sejak pagi
hari waktu setempat.
Azan pertama di Haram dikumandangkan pada pukul 11.55 WAS
dan azan kedua pukul 12.24 WAS. Sedangkan khutbah Jumat selesai pukul 12.46
WIB.
Khutbah utama disampaikan khatib melalui bahasa Arab.
Sedangkan saluran bahasa lain bisa disimak dengan beragam saluran radio yang
tersedia.
Selanjutnya………
https://roadmakkah.blogspot.com/2019/07/menyimak-khutbah-berbahasa-indonesia-di.html
Pertanyaan:
Ustaz, selama 9 hari jamaah haji Indonesia melakukan
arbain di Madinah. Apa sebenarnya makna arbain itu? Apakah masuk dalam rukun
atau wajib haji? Amalan apa yang harus dilakukan selama arbain?
Ridwan
Bandung, Jawa Barat
Jawaban:
Waalaikumussalam Wr Wb
Baik gelombang pertama maupun gelombang kedua, jamaah
haji Indonesia akan melewati fase 8 atau 9 hari di Madinah. Baik sebelum maupun
setelah ibadah haji. Sering dimotivasi agar melaksanakan shalat arbain di
Masjid Nabawi. Makna “arba’in” atau “arba’un” adalah melaksanakan shalat empat
puluh waktu tanpa terputus berjamaah di Masjid Nabawi.
Kadang jamaah merasa melaksanakan arbain ini menjadi
keharusan dan ketika tidak bisa melakukannya maka ia sangat menyesal dan
meyakini hajinya tidak afdhal bahkan tidak sah. Sebenarnya arbain itu sama
sekali tidak termasuk “wajib haji” apalagi menjadi “rukun haji” karena semua
kegiatan haji itu adanya di Makkah bukan di Madinah.
Kalaupun jamaah tidak sampai berziarah ke Madinah maka
tidaklah ia melanggar kewajiban haji dan membayar dam. Begitu juga hal itu
tidak berpengaruh terhadap sah atau tidaknya haji.
Selama di Madinah inti ibadah adalah memperbanyak shalat
di Masjid Nabawi sesuai dengan sabda Nabi “Dari Abu Hurairah Ra bahwa Nabi SAW
bersabda: ”satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di
masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram” (HR Bukhori Muslim). Hadis
muttafaq ‘alaih yang tidak diragukan keshahihannya ini sebenarnya sudah cukup
untuk menyemangati kita agar selalu berupaya memaksimalkan ibadah di Masjid
Nabawi.
Adapun pelaksanaan arbain didasarkan pada hadis dari Anas
bin Malik Ra “Barangsiapa shalat di masjidku empat puluh shalat tanpa
ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan
dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan”
(HR Ahmad dan Thabrani). Hadits ini tentu sangat mendorong untuk beribadah di
Masjid Nabawi, akan tetapi Hadits ini ternyata banyak dikritisi oleh ulama.
Sebagiannya menyatakan hadits ini dhoif
(lemah). Titik lemahnya adalah dimasukkannya Nubaith sebagai rawi yang
memang tidak dikenal (majhul).
Syekh MuqbilAl Wadi’iy ulama hadis dari Yaman menilai
bahwa hadit ini tidak shahih dari Rasulullah SAW. Syekh Nashiruddin Al Bany
menilai hadits ini munkar ia menyatakan “sanad hadits ini dho’if. Ada seorang
perawi yang bernama Nubaith yang tidak dikenal statusnya”. Syekh Su’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini
lemah karena status Nubaith bin Umar yang tidak diketahui.
Berbeda dengan pendapat Al Haitsami dalam Majma’ Az
Zawa’id yang mengatakan bahwa periwayat hadits di atas itu //tsiqoh//
(terpercaya). Akan tetapi Syekh Nashiruddin Al Bany mengomentari “Beliau sudah
salah sangka karena Nubaith bukanlah periwayat dari Kitab Shahih, bahkan dia
bukan periwayat dari kutubus sittah lainnya”.
Hadis dari Anas Bin Malik Ra yang justru disepakati
keshahihannya adalah hadits “arbain” lain, yaitu shalat berjamaah “empat puluh
hari” yang membebaskan dari neraka dan bebas dari kemunafikan. Sabda Nabi SAW “Barangsiapa
shalat empat puluh hari dengan berjamaah dan mendapati takbiratul ihramnya
imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua perkara, yaitu bebas dari api
neraka dan bebas dari kemunafikan” (HR Turmudzi).
Adapun amalan yang dikerjakan oleh jamaah
selama 8 atau 9 hari di Madinah yaitu
memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, berziarah ke makam Rasulullah, menghayati
kehidupan Nabi dan para shahabat dahulu, mengambil ibrah dari tempat tempat
bersejarah, serta kegiatan amal-amal saleh lain seperti banyak membaca Alquran,
bersedekah, shalawat dan salam kepada Nabi, menyerap ilmu dari taushiyah yang
diadakan di Masjid Nabawi atau masjid lainnya.
(Sumber: https://www.republika.co.id)
Tata Cara Umroh dan Bacaannya yang Benar: Cara Umroh Sesuai Sunnah 2019 ...
- 05.33
- By faridan
- 0 Comments
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا
كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ
“Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena
umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no.
1256).
1) Mandi junub, pakai
parfum, & pakaian ihram.
2) Pakaian ihram laki-laki
(2 lembar kain ihram). Wanita (pakaian syar’i, tidak dibenarkan pakai cadar,
& tidak boleh pakai sarung tangan).
3) Berihram dari miqat,
ucapkan: “Labbaika ‘umroh”.
4) Khawatir tdk dapat
menyelesaikan umroh karena sakit atau hal lain, boleh dg baca: “Allahumma
mahilli haitsu habastani”.
5) Bertepatan dg waktu
shalat wajib, shalat lalu berihram.
6) Perbanyak talbiah sambil
keraskan suara (laki-laki) & lirih (perempuan) sampai di Makkah, baca:
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan
ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”.
7) Anjuran mandi sebelum
masuk Makkah.
8) Masuk Masjidil Haram,
dahulukan kaki kanan sambil baca doa masuk masjid: “Allahummaf tahlii abwaaba
rohmatik”.
9) Ke Hajar Aswad,
menghadap sambil baca “Allahu akbar” / “Bismillah Allahu akbar”, usap dg tangan
kanan & menciumnya. Tidak memungkinkan mencium, cukup usap, cium tangan
pengusap hajar Aswad. Tidak memungkinkan mengusap, cukup beri isyarat tangan,
tdk perlu mencium tangan pemberi isyarat. Lakukan setiap putaran thawaf.
10) Thawaf 7 putaran, dari
Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad. Berlari-lari kecil pada 3 putaran
pertama & berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.
11) Usap Rukun Yamani pada
setiap putaran thawaf. Tidak perlu cium Rukun Yamani. Tidak memungkinkan
mengusapnya, tdk perlu memberi isyarat tangan.
12) Di antara Rukun Yamani
& Hajar Aswad, baca: “Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti
hasanah wa qina ‘adzaban naar”.
13) Tidak ada dzikir
tertentu saat thawaf, kecuali No. 12. Boleh baca al-Qur’an, do’a, atau dzikir
disukai.
14) Tutup kedua pundaknya,
ke makam Ibrahim sambil baca: “Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla”.
15) Shalat sunnah thawaf 2
raka’at di belakang Maqam Ibrahim, rakaat pertama setelah baca surat
al-Fatihah, baca surat al-Kafirun & pada raka’at kedua setelah baca
al-Fatihah, baca surat al-Ikhlas.
16) Minum air zam-zam &
menyirami kepala dengannya.
17) Ke Hajar Aswad,
takbir, mengusap & menciumnya jika tdk memungkinkan atau mengusapnya atau
beri isyarat kepadanya.
18) Ke Bukit Shafa,
laksanakan sa’i umrah, & jika mendekati Shafa, baca: “Innash shafaa wal
marwata min sya’airillah”. Lalu ucapkan, “Nabda’u bimaa badaa-allahu bih”.
19) Naik Bukit Shafa,
menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya -jika hal itu memungkinkan-, baca:
“Allahu Akbar (3x), Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk
walahul hamd, yuhyi wayumit wahuwa ‘ala kulli syai’in qadir, laa ilaaha
illallahu wahdah anjaza wa’dah wanashoro abdah wahazamul ahzaaba wahdah”.
20) Ulang 3 kali & doa
di antara pengulangan itu.
21) Turun dari Shafa &
berjalan ke Marwah.
22) Berlari-lari kecil
cepat & sungguh² di antara 2 tanda lampu hijau di tempat sa’i bagi
laki-laki, berjalan biasa & naik ke Marwah.
23) Di Marwah, kerjakan
seperti di Shafa (menghadap kiblat, takbir, baca dzikir pada No. 19 &
berdo’a, perjalanan Shafa ke Marwah, dihitung 1 putaran).
24) Turun ke Shafa,
berjalan & berlari, naik ke Shafa & lakukan seperti semula.
25) Lakukan sampai 7 kali
dg berakhir di Marwah.
26) Saat sa’i, tdk ada
dzikir² tertentu, boleh dzikir, berdo’a, atau membaca bacaan² yg dikehendaki.
27) Jika baca do’a,
“Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom”, tdk mengapa.
28) Tahallul, gundul lebih
afdhal. Bagi wanita, cukup potong rambutnya sepanjang satu ruas jari.
29) Umroh selesai &
boleh mengerjakan hal yg dilarang saat ihram.
(Yufid TV Official
Website: http://yufid.tv)
Tata Cara Umroh dan Bacaannya yang Benar: Cara Umroh Sesuai Sunnah 2018 ...
- 06.00
- By faridan
- 0 Comments
Tata Cara Umroh dan Bacaan Umroh yang Benar Sesuai Sunnah (Lengkap):
1) Mandi junub, pakai parfum, & pakaian ihram.
2) Pakaian ihram laki-laki (2 lembar kain ihram). Wanita (pakaian syar’i, tidak dibenarkan pakai cadar,
& tidak boleh pakai sarung tangan).
& tidak boleh pakai sarung tangan).
3) Berihram dari miqat, ucapkan: “Labbaika ‘umroh”.
4) Khawatir tdk dapat menyelesaikan umroh karena sakit atau hal lain, boleh dg baca: “Allahumma
mahilli haitsu habastani”.
mahilli haitsu habastani”.
5) Bertepatan dg waktu shalat wajib, shalat lalu berihram.
6) Perbanyak talbiah sambil keraskan suara (laki-laki) & lirih (perempuan) sampai di Makkah, baca:
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”.
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”.
7) Anjuran mandi sebelum masuk Makkah.
8) Masuk Masjidil Haram, dahulukan kaki kanan sambil baca doa masuk masjid: “Allahummaf tahlii abwaaba rohmatik”.
9) Ke Hajar Aswad, menghadap sambil baca “Allahu akbar” / “Bismillah Allahu akbar”, usap dg tangan
kanan & menciumnya. Tidak memungkinkan mencium, cukup usap, cium tangan pengusap hajar Aswad. Tidak memungkinkan mengusap, cukup beri isyarat tangan, tdk perlu mencium tangan pemberi isyarat. Lakukan setiap putaran thawaf.
kanan & menciumnya. Tidak memungkinkan mencium, cukup usap, cium tangan pengusap hajar Aswad. Tidak memungkinkan mengusap, cukup beri isyarat tangan, tdk perlu mencium tangan pemberi isyarat. Lakukan setiap putaran thawaf.
10) Thawaf 7 putaran, dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad. Berlari-lari kecil pada 3 putaran
pertama & berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.
pertama & berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.
11) Usap Rukun Yamani pada setiap putaran thawaf. Tidak perlu cium Rukun Yamani. Tidak memungkinkan mengusapnya, tdk perlu memberi isyarat tangan.
12) Di antara Rukun Yamani & Hajar Aswad, baca: “Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti
hasanah wa qina ‘adzaban naar”.
hasanah wa qina ‘adzaban naar”.
13) Tidak ada dzikir tertentu saat thawaf, kecuali No. 12. Boleh baca al-Qur’an, do’a, atau dzikir
disukai.
disukai.
14) Tutup kedua pundaknya, e makam Ibrahim sambil baca: “Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla”.
15) Shalat sunnah thawaf 2 raka’at di belakang Maqam Ibrahim, rakaat pertama setelah baca surat
al-Fatihah, baca surat al-Kafirun & pada raka’at kedua setelah baca al-Fatihah, baca surat al-Ikhlas.
al-Fatihah, baca surat al-Kafirun & pada raka’at kedua setelah baca al-Fatihah, baca surat al-Ikhlas.
16) Minum air zam-zam & menyirami kepala dengannya.
17) Ke Hajar Aswad, takbir, mengusap & menciumnya jika tdk memungkinkan atau mengusapnya atau
beri isyarat kepadanya.
beri isyarat kepadanya.
18) Ke Bukit Shafa, laksanakan sa’i umrah, & jika mendekati Shafa, baca: “Innash shafaa wal
marwata min sya’airillah”. Lalu ucapkan, “Nabda’u bimaa badaa-allahu bih”.
marwata min sya’airillah”. Lalu ucapkan, “Nabda’u bimaa badaa-allahu bih”.
19) Naik Bukit Shafa, menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya -jika hal itu memungkinkan-, baca:
“Allahu Akbar (3x), Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd, yuhyi wayumit wahuwa ‘ala kulli syai’in qadir, laa ilaaha illallahu wahdah anjaza wa’dah wanashoro abdah wahazamul ahzaaba wahdah”.
“Allahu Akbar (3x), Laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd, yuhyi wayumit wahuwa ‘ala kulli syai’in qadir, laa ilaaha illallahu wahdah anjaza wa’dah wanashoro abdah wahazamul ahzaaba wahdah”.
20) Ulang 3 kali & doa di antara pengulangan itu.
21) Turun dari Shafa & berjalan ke Marwah.
22) Berlari-lari kecil cepat & sungguh² di antara 2 tanda lampu hijau di tempat sa’i bagi laki-laki, berjalan biasa & naik ke Marwah.
23) Di Marwah, kerjakan seperti di Shafa (menghadap kiblat, takbir, baca dzikir pada No. 19 &
berdo’a, perjalanan Shafa ke Marwah, dihitung 1 putaran).
berdo’a, perjalanan Shafa ke Marwah, dihitung 1 putaran).
24) Turun ke Shafa, berjalan & berlari, naik ke Shafa & lakukan seperti semula.
25) Lakukan sampai 7 kali dg berakhir di Marwah.
26) Saat sa’i, tdk ada dzikir² tertentu, boleh dzikir, berdo’a, atau membaca bacaan² yg dikehendaki.
27) Jika baca do’a, “Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom”, tdk mengapa.
28) Tahallul, gundul lebih afdhal. Bagi wanita, cukup potong rambutnya sepanjang satu ruas jari.
29) Umroh selesai & boleh mengerjakan hal yg dilarang saat ihram.




