Biografi Syaikh Sa’ad Al Ghamidi
Syaikh Sa’ad Said Al Ghamidi seorang tokoh Ikhwanul
Muslimin yang berasal dari Arab Saudi. Beliau dilahirkan pada tanggal 19 Mei
tahun 1967 atau 1387 H di kota Dammam, Mantiqah Syarqiyah. Di seluruh dunia
Islam, beliau dikenal sebagai seorang qari’ Al Qur’an. Rekaman murattalnya
telah beredar di seantero dunia.
Dari pernikahannya Syaikh Al Ghamidi mempunyai tiga orang
anak lelaki yaitu Mujahid, Salman, Abdul Aziz, dan dua putri lainnya.
Syaikh Al Ghamidi menyelesaikan pendidikan dasarnya di
Dammam. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dari Universitas Imam
Muhammad bin Saud dari fakultas Ushuluddin. Beliau lulus dari Universitas ini
pada tahun 1410.
Kemudian beliau mendalami bacaan Al Qur’an. Pada tahun
1990, beliau telah menghafal 30 Juz Al Quran. Bacaan Al Quran beliau sangat
mudah dicirikan dengan lantunan suara yang sangat indah. Tahun 1415 dan tahun 1417, ia mendapat gelar
Sarjana Muda dari sanad qira’ah diambil dari riwayat Hafsh ‘an Ashim.
Rekaman bacaan Al Quran beliau juga sangat sukses. Selain
dikenal di banyak dunia arab, beliau juga dikenal di beberapa negara luar Arab
seperti Austria, Amerika Serikat dan Inggris
Bacaan Qur’an Syaikh Al Ghamidi kemudian menyebar dan
dikenal umum setelah dibuat versi rekamannya sampai kemudian pihak Kerajaan
Saudi Arabia menunjuknya untuk menjadi salah satu imam tamu untuk memimpin
shalat tarawih di Masjid Nabawi sejak tahun 2009.
Menurut pengakuannya, Syaikh Sa’ad sangat mencintai
bacaan dan murattal Syaikh Muhammad Shadiq Al Minsyawi dan Syaikh Marwan Al
Qadiri.
“Saya tidak merasa bacaan masuk dalam hati saya, tetapi
ada di dalam diri saya, seperti bacaan Syaikh Muhammad Al Minsyawi yang sangat
istimewa dan menjadi ciri khas miliknya,” kata beliau.
Pengalaman kerja beliau dimulai pada tahun 1411 hingga
1415 H dimana beliau bekerja sebagai seorang guru. Kemudian dilanjutkan menjadi
pembimbing Pendidikan Islam pada 1416 hingga 1423 H.
Saat ini beliau bekerja sebagai direktur sekolah swasta
Muhammad Al Fatih di Dammam dan menjadi penanggungjawab utama mengajar Al
Qur’an di Markaz Imam Al Khatibi di Dammam. Selain itu, beliau juga
bertanggungjawab dalam studi aqidah dan pendidikan di kantor Manarul Huda. Juga sebagai Imam dan khatib di Masjid Yusuf
bin Ahmad di Dammam. Beliau juga menjadi anggota lajnah sosial Damam yang
berkonsentrasi dalam perundangan masyarakat.
Beliau memiliki situs pribadi di alamat:
http://www.saadghamdi.com/ dan laman Facebook di
https://www.facebook.com/saad.ghamdi
Menolak Jadi Imam Masjidil Haram demi Orangtua
Ketika tim redaksi Majalah Nun melakukan kunjungan ke
kantor tempat beliau bekerja, Markaz Manarul Huda, di Dammam, sejumlah
pertanyaan diajukan pada beliau.
Di antara pertanyaan yang disampaikan kepada beliau dalam
kunjungan tersebut adalah, “Sejauh apa kebenaran berita yang mengatakan bahwa
Anda ditawari untuk menjadi imam di Al Haram Al Makki (Al Masjid Al Haraam)
oleh Al-Amiir ‘Abdul Majiid Rahimahullaah? Apa sebab Anda menolak tawaran
tersebut?”
Syaikh Al Ghamidi menjawab, “Ya, saya pernah ditawari
untuk menjadi Imam Al Haram Al Makki beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi saya
menolaknya dalam rangka memenuhi keridhaan kedua orang tua saya yang
menginginkan saya agar tetap tinggal bersama mereka. Saya tidak pernah menyesal
telah menolak tawaran tersebut.”
Karya Tulis
Meskipun dikenal sebagai qari’, Syaikh Al Ghamidi juga
menulis beberapa kitab, yaitu:
1.Mushaf Al Murattal lil Quran (1417 H)
2.Nudzumu Hidayah Al Murtab fi Mutasyabih Al Kithab lil
Imam Sakhawi Rahimahullah
3.Nudzumu Alfiyah Al Iraqi lil Hafizh Al Iraqi
4.Risalah, Illa Ahlul Quran
5.Al Adzkar
6.Ruqyah Syar’iyah
Sumber: http://fimadani.com/biografi-syaikh-saad-al-ghamidi/
Ketika Anak
dari Kecil Dekat dengan Al Qur’an, Al Qur’an akan Bercampur dengan Darah dan
Dagingnya
Wahai para
Abi/Abah/Ayah dan Ummi, putera-puteri kita merupakan amanah sang maha pencipta,
maha pengasih lagi maha penyayang yaitu Alloh subhanahu wata’ala, titipan ilahi
yang lahir ke dunia fana ini dalam keadaan fithrah (suci) mengemban misi Dinul
Islam dan Tauhidulloh.
Ya..
putera-puteri kita merupakan amanah, jagalah dia, didiklah dia, penuhi segala
aktifitasnya dengan tunas-tunas kebaikan dan benih benih amal shalih,
Ittaqulloh (senantiasa bertaqwalah kepada Alloh) wahai para ayah dan bunda
terhadap putera-puteri kalian karena ia adalah amanah besar dari Alloh Ta’ala
dalam pundak-pundak kalian.
Ayah dan
Bunda yang telah menyaksikan langsung sang anak terlahir ke dunia, dan keduanya
juga adalah orang pertama yang bergerak mengajarkan (anak) dari mulai belajar
berdiri, berbicara, berjalan hingga adab (akhlaq), mengarahkan dan memberikan
pengaruh baik kepadanya.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka
kedua ibu-bapaknyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi atau seorang
Nasrani atau seorang Majusi”.(Muttafaqun ‘alaih).
Dari
sinilah, orang tua memiliki peran penting dalam tumbuh dan berkembangnya anak,
dekatkanlah anak-anak kita dengan Al Qur’an, tanamkanlah benih benih
Tauhidulloh dalam jiwa mereka, pupuklah semangat mereka agar senantiasa menjadi
Ahlul khoir, penebar kebaikan, Ahlul Qur’an (Penghafal Al Qur’an) dan penebar
kebaikan, bersemangat mengerjakan amal shalih dan tidak keluar dari
aturan-aturan syari’at Islam.
AL QUR’AN
NUTRISI TERBAIK UNTUK ANAK-ANAK KITA.
Imam
Al-Bukhori meriwayatkan di dalam At-Taariikhul Kabiir, bahwasanya Nabi
Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa yang mempelajari Al Qur’an di usia muda,
maka Alloh akan menyatukan Al Qur’an dengan darah dan dagingnya” (At-Taariikhul
Kabiir iii /94).
Di dalam
kitab Al Adaab Assyar’iyyah Libni Muflih 1/244, Ibnu Abbas Mengatakan :
“Barang siapa yang membaca Al Qur’an sebelum ia
baligh, maka ia termasuk orang yang diberi ilmusejak masa kecil”.
Rasulullah
Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Dari Ibnu Abbas semoga Alloh meridhainya ia berkata, Rasululloh
Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hafalan anak kecil bagaikan
melukis/mengukir di atas batu dan hafalan anak seorang dewasa bagaikan menulis
di atas air”. (Hadits Marfu’ diriwayatkan oleh Alkhatib dalam Al jami’nya).
“Ketika anak
menghafal Al Qur’an semenjak dini maka Al Qur’an akan menyatu dengan darah dan
dagingnya.”
(Dr. Yahya
Al Ghautsani, Pakar pendidikan Al Qur’an)
Seuntai Syair
**********
Wahai Penghafal (penjaga) Al Qur’an.
Wahai penghafal (penjaga) Al Qur’an Allah Yang Maha Penyayang telah Memilih
kalian.
Dengan karunia keutamaan dan mahkota (kemuliaan) dengan ketenangan jiwa dan
semerbak wangi penghormatan.
Wahai yang selalu membaca Al Qur’an dengan tartil peringatan dan wahyu yang
diturunkan
Alangkah bahagianya kalian di hari perjalanan panjang (akhirat) Karena
kalian akan mendapatkan kemenangan dan ampunan
Wahai orang yang selalu membaca ayat-ayat Nya Baik di tengah keramaian atau
sendirian
Para Penghuni langit (malaikat) sangat bangga kepada kalian Seluruh makhluk
pun iri kepadamu
Wahai penghafal (penjaga) Al Qur’an
******
DO’A PARA
PECINTA AL QUR’AN
Rasulullah
-shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda :
“Barangsiapa
yang sedang mendapatkan musibah, kesedihan hati dan kegundahan jiwa kemudian
membaca do’a ini pastilah Allah akan menghilangkan semua kesedihan dan
kesulitannya serta menggantikan dengan jalan keluar baginya”.
“Ya Allah jadikanlah Al Qur’an sebagai penyejuk hati
kami, cahaya yang menyinari dada kami, pelipur duka kami dan penghapus
kesedihan kami”.
Lalu
seseorang bertanya kepada Rasulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- “Ya
Rasulullah, bolehkah kami menghafalkannya ?”. Beliau menjawab : “Aku anjurkan
bagi yang mendengarnya agar menghafalkan (dan mengamalkannya)”. (HR. Hakim
dalam Al Mustadrak, beliau berkata : Hadits ini Shahih dengan persyaratan Imam
Muslim). [Nzal/dbs]-(panjimas.com)
Mengharukan, Bacaan Al Quran Anak ini terhenti karena Menahan Tangis S...
- 09.14
- By faridan
- 0 Comments
Katakanlah:
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS Al Jumuah : 8)
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS Al Jumuah : 8)
Mengharukan, Bacaan Al
Quran Anak ini terhenti karena Menahan Tangis
Seorang anak kecil sedang
dites oleh juri, dan saat membacakan ayat suci AlQuran Surat Al Jumuah sampai
pada ayat 8, tiba-tiba ia terhenti karena merasa sedih dan menahan tangis.
(Hamba Allah)
Surah At-Takwiir Full Terjemah - Abu Usamah Syamsul Hadi
- 05.38
- By faridan
- 0 Comments
Surat At
Takwir terdiri atas 29 ayat dan termasuk golongan surat-surat Makkiyah,
diturunkan sesudah surat Al Masadd. Kata At Takwir (terbelah) yang menjadi nama
bagi surat ini adalah dari kata asal (mashdar) dari kata kerja kuwwirat
(digulung) yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Kegoncangan-kegoncangan yang terjadi pada hari kiamat; pada hari kiamat setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja- kannya waktu di dunia; Al Quran adalah firman Allah yang disam- paikan oleh Jibril a.s.; penegasan atas kenabian Muhammad s.a.w.; Al Quran sumber petunjuk bagi umat manusia yang menginginkan hidup lurus; suksesnya manusia dalam mencapai kehidupan yang lurus itu tergantung kepada taufiq dari Allah.
Kegoncangan-kegoncangan yang terjadi pada hari kiamat; pada hari kiamat setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerja- kannya waktu di dunia; Al Quran adalah firman Allah yang disam- paikan oleh Jibril a.s.; penegasan atas kenabian Muhammad s.a.w.; Al Quran sumber petunjuk bagi umat manusia yang menginginkan hidup lurus; suksesnya manusia dalam mencapai kehidupan yang lurus itu tergantung kepada taufiq dari Allah.
Surat At
Takwiir mengemukakan tentang kejadian-kejadian pada hari kiamat serta kebenaran
Al Quran sebagai wahyu Allah dan kerasulan Nabi Muhammad s.a.w.
’ABASA
(Ia Bermuka Masam)
(Ia Bermuka Masam)
MUQADDIMAH
Surat ’Abasa terdiri atas 42 ayat,
termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat An-Najm.
Dinamai “Abasa” (ia bermuka masam) diambil dari perkataan ’Abasa yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan kepadanya ayat-ayat Al Qur’an yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rasulullan shalallahu ‘alaihi wasallam bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum yang buta itu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap Ibnu Ummi Maktum itu.
Dinamai “Abasa” (ia bermuka masam) diambil dari perkataan ’Abasa yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Menurut riwayat, pada suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menerima dan berbicara dengan pemuka-pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar mereka masuk Islam. Dalam pada itu datanglah Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membacakan kepadanya ayat-ayat Al Qur’an yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rasulullan shalallahu ‘alaihi wasallam bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummi Maktum yang buta itu, lalu Allah menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap Rasulullah terhadap Ibnu Ummi Maktum itu.
Pokok-pokok isinya:
1.
Keimanan:
Dalil-dalil
keesaan Allah; keadaan manusia pada hari kiamat.
2.
Dan lain-lain:
Dalam
berdakwah hendaknya memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang
diberi dakwah; cercaan Allah kepada manusia yang tidak mensyukuri ni’mat-Nya.
سورة عبس
(IA BERMUKA MASAM)
Surat ke 80 : 42 ayat
(IA BERMUKA MASAM)
Surat ke 80 : 42 ayat
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
TEGURAN KEPADA RASULULLAH SHALALLAHU
‘ALAIHI WASALLAM.
عَبَسَ
وَتَوَلَّى
1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
أَن
جَآءَهُ الْأَعْمَى
2. karena telah datang seorang buta kepadanya[1].
2. karena telah datang seorang buta kepadanya[1].
وَمَا
يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى
3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).
3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).
أَوْ
يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَى
4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya?
4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya?
أَمَّا
مَنِ اسْتَغْنَى
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup[2],
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup[2],
فَأَنتَ
لَهُ تَصَدَّى
6. maka kamu melayaninya.
6. maka kamu melayaninya.
وَمَا
عَلَيْكَ أَلاَّ يَزَّكَّى
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
وَأَمَّا
مَن جَآءَكَ يَسْعَى
8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
وَهُوَ
يَخْشَى
9. sedang ia takut kepada (Allah),
9. sedang ia takut kepada (Allah),
فَأَنتَ
عَنْهُ تَلَهَّى
10. maka kamu mengabaikannya.
10. maka kamu mengabaikannya.
كَلاَّ
إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,
11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,
فَمَن
شَآءَ ذَكَرَهُ
12. maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
12. maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
فِي
صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ
13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan[3],
13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan[3],
مَّرْفُوعَةٍ
مُّطَهَّرَةٍ
14. yang ditinggikan lagi disucikan,
14. yang ditinggikan lagi disucikan,
بِأَيْدِي
سَفَرَةٍ
15. di tangan para penulis (malaikat),
15. di tangan para penulis (malaikat),
كِرَامٍ
بَرَرَةٍ
16. yang mulia lagi berbakti.
16. yang mulia lagi berbakti.
PERINGATAN TUHAN KEPADA MANUSIA YANG TIDAK
TAHU HAKIKAT DIRINYA.
قُتِلَ
الْإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ
17. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?
17. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?
مِنْ
أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ
18. Dari apakah Allah menciptakannya?
18. Dari apakah Allah menciptakannya?
مِن
نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ
19. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya[4].
19. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya[4].
ثُمَّ
السَّبِيلَ يَسَّرَهُ
20. Kemudian Dia memudahkan jalannya[5],
20. Kemudian Dia memudahkan jalannya[5],
ثُمَّ
أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ
21. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
21. kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
ثُمَّ
إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُ
22. kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
22. kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
كَلاَّ
لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ
23. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,
23. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,
فَلْيَنظُرِ
الْإِنسَانُ إِلَى طَعَامِهِ
24. maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
24. maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
أَنَّا
صَبَبْنَا الْمَآءَ صَبًّا
25. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),
25. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),
ثُمَّ
شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا
26. kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
26. kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
فَأَنبَتْنَا
فِيهَا حَبًّا
27. lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
27. lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
وَعِنَبًا
وَقَضْبًا
28. anggur dan sayur-sayuran,
28. anggur dan sayur-sayuran,
وَزَيْتُونًا
وَنَخْلاً
29. Zaitun dan pohon kurma,
29. Zaitun dan pohon kurma,
وَحَدَآئِقَ
غُلْبًا
30. kebun-kebun (yang) lebat,
30. kebun-kebun (yang) lebat,
وَفَاكِهَةً
وَأَبًّا
31. dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
31. dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
مَّتَاعًا
لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
32. untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
32. untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
فَإِذَا
جَآءَتِ الصَّآخَّةُ
33. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
33. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
يَوْمَ
يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
34. pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
34. pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
وَأُمِّهِ
وَأَبِيهِ
35. dari ibu dan bapaknya,
35. dari ibu dan bapaknya,
وَصَاحِبَتِهِ
وَبَنِيهِ
36. dari isteri dan anak-anaknya.
36. dari isteri dan anak-anaknya.
لِكُلِّ
امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
وُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ
38. Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
38. Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
ضَاحِكَةٌ
مُّسْتَبْشِرَةٌ
39. tertawa dan gembira ria,
39. tertawa dan gembira ria,
وَوُجُوهٌ
يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ
40. dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
40. dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
تَرْهَقُهَا
قَتَرَةٌ
41. dan ditutup lagi oleh kegelapan[6].
41. dan ditutup lagi oleh kegelapan[6].
أُوْلَئِكَ
هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ
42. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.
42. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.
PENUTUP
Surat
’Abasa mengandung teguran Allah kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
yang lebih mengutamakan pembesar-pembesar Quraisy yang diharapkan agar mereka
masuk Islam daripada Ibnu Ummi Maktum yang buta, tapi telah diyakini
keimanannya; Al-Qur’an adalah sebagai peringatan; dan salah satu sifat manusia
ialah tidak mensyukuri nikmat Allah.
HUBUNGAN
SURAT ’ABASA DENGAN SURAT AT-TAKWIIR:
1.
Sama-sama menerangkan tentang huru-hara pada hari kiamat.
2.
Sama-sama menerangkan bahwa manusia pada hari kiamat terbagi dua.
3.
Pada surat ’Abasa Allah subhanahu wa ta’ala menegur Muhammad shalallahu ‘alaihi
wasallam sedang dalam surat At-Takwiir Allah menegaskan bahwa Muhammad
shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang Rasul yang mulia.
(1) Orang buta itu bernama Abdullah bin
Ummi Maktum. Dia datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meminta
ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi
pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk
Islam. Maka turunlah surat ini sebagai teguran kepada Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasallam.
(2) Yaitu pembesar-pembesar Quraisy yang
sedang dihadapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang diharapkannya dapat
masuk Islam.
(3) Maksudnya: kitab-kitab yang
diturunkan kepada nabi-nabi yang berasal dari Lauh Mahfuzh.
(4) Yang dimaksud dengan “menentukannya”
ialah menentukan fase-fase kejadiannya, umurnya, rezkinya dan nasibnya.
(5) “Memudahkan jalan”, maksudnya:
memudahkan kelahirannya atau memberi persediaan kepadanya untuk menjalani jalan
yang benar atau jalan yang sesat.
(6) Maksudnya mereka ditimpa kehinaan
dan kesusahan.
(https://abihumaid.wordpress.com)
Tadabbur Surah An-Naba Sangat Menyentuh - Salah Mussaly ᴴᴰ
- 05.30
- By faridan
- 0 Comments
AN-NABA’
(Berita Besar)
(Berita Besar)
MUQADDIMAH
Surat An-Naba’ terdiri atas 40 ayat,
termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Ma’aarij.
Dinamai “An-Naba’” (berita besar), diambil dari perkataan An-Naba’ yang
terdapat pada ayat 2 surat ini.
Dinamai juga “’Amma yatasaa aluun” diambil dari perkataan ’Amma yatassa aluun
yang terdapat pada ayat 1 surat ini.
termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al-Ma’aarij.
Dinamai “An-Naba’” (berita besar), diambil dari perkataan An-Naba’ yang
terdapat pada ayat 2 surat ini.
Dinamai juga “’Amma yatasaa aluun” diambil dari perkataan ’Amma yatassa aluun
yang terdapat pada ayat 1 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
Keimanan:
Pengingkaran
orang-orang musyrik terhadap adanya hari berbangkit dan ancaman Allah terhadap
sikap mereka itu; kekuasaan-kekuasaan Allah yang terlihat dalam alam sebagai
bukti adanya hari berbangkit; peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari
berbangkit; azab yang diterima orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah
serta kebahagiaan yang diterima orang-orang mukmin di hari kiamat; penyesalan
orang kafir di hari kiamat.
orang-orang musyrik terhadap adanya hari berbangkit dan ancaman Allah terhadap
sikap mereka itu; kekuasaan-kekuasaan Allah yang terlihat dalam alam sebagai
bukti adanya hari berbangkit; peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari
berbangkit; azab yang diterima orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah
serta kebahagiaan yang diterima orang-orang mukmin di hari kiamat; penyesalan
orang kafir di hari kiamat.
سورة النبأ
(BERITA BESAR)
Surat
ke 78 : 40 ayat
(BERITA BESAR)
Surat
ke 78 : 40 ayat
JUZ 30
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
HARI BERBANGKIT.
Kekuasaan Allah
menciptakan alam dan ni’mat-ni’mat yang diberikan-Nya adalah bukti bagi
kekuasaan-Nya membangkitkan manusia.
Kekuasaan Allah
menciptakan alam dan ni’mat-ni’mat yang diberikan-Nya adalah bukti bagi
kekuasaan-Nya membangkitkan manusia.
عَمَّ
يَتَسَآءَلُونَ
1. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?
يَتَسَآءَلُونَ
1. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?
عَنِ
النَّبَإِ الْعَظِيمِ
2. Tentang berita yang besar[1],
النَّبَإِ الْعَظِيمِ
2. Tentang berita yang besar[1],
الَّذِي
هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
3. yang mereka perselisihkan tentang ini.
هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
3. yang mereka perselisihkan tentang ini.
كَلاَّ
سَيَعْلَمُونَ
4. Sekali-kali tidak;[2] kelak
mereka akan mengetahui,
سَيَعْلَمُونَ
4. Sekali-kali tidak;[2] kelak
mereka akan mengetahui,
ثُمَّ
كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ
5. kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.
كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ
5. kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.
أَلَمْ
نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا
6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,
نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا
6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,
وَالْجِبَالَ
أَوْتَادًا
7. dan gunung-gunung sebagai pasak?,
أَوْتَادًا
7. dan gunung-gunung sebagai pasak?,
وَخَلَقْنَاكُمْ
أَزْوَاجًا
8. dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,
أَزْوَاجًا
8. dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,
وَجَعَلْنَا
نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
9. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,
نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
9. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,
وَجَعَلْنَا
اللَّيْلَ لِبَاسًا
10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian[3],
اللَّيْلَ لِبَاسًا
10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian[3],
وَجَعَلْنَا
النَّهَارَ مَعَاشًا
11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,
النَّهَارَ مَعَاشًا
11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,
وَبَنَيْنَا
فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا
12. dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,
فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا
12. dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,
وَجَعَلْنَا
سِرَاجًا وَهَّاجًا
13. dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),
سِرَاجًا وَهَّاجًا
13. dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),
وَأَنزَلْنَا
مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَآءً ثَجَّاجًا
14. dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah,
مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَآءً ثَجَّاجًا
14. dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah,
لِنُخْرِجَ
بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا
15. supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan,
بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا
15. supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan,
وَجَنَّاتٍ
أَلْفَافًا
16. dan kebun-kebun yang lebat?
أَلْفَافًا
16. dan kebun-kebun yang lebat?
Kehebatan hari berbangkit.
إِنَّ
يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا
17. Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan,
يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا
17. Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan,
يَوْمَ
يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
18. yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang
berkelompok-kelompok,
يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
18. yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang
berkelompok-kelompok,
وَفُتِحَتِ
السَّمَآءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا
19. dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,
السَّمَآءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا
19. dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,
وَسُيِّرَتِ
الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
20. dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.
الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
20. dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.
Balasan terhadap orang yang durhaka.
إِنَّ
جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
21. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai[4],
جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
21. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai[4],
لِلْطَّاغِينَ
مَآبًا
22. lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,
مَآبًا
22. lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,
لاَبِثِينَ
فِيهَا أَحْقَابًا
23. mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,
فِيهَا أَحْقَابًا
23. mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,
لاَّ
يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلاَ شَرَابًا
24. mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat)
minuman,
يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلاَ شَرَابًا
24. mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat)
minuman,
إِلاَّ
حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
25. selain air yang mendidih dan nanah,
حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
25. selain air yang mendidih dan nanah,
جَزَآءً
وِفَاقًا
26. sebagai pembalasan yang setimpal.
وِفَاقًا
26. sebagai pembalasan yang setimpal.
إِنَّهُمْ
كَانُوا لاَ يَرْجُونَ حِسَابًا
27. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab,
كَانُوا لاَ يَرْجُونَ حِسَابًا
27. Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab,
وَكَذَّبُوا
بِآيَاتِنَا كِذَّابًا
28. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya,
بِآيَاتِنَا كِذَّابًا
28. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya,
وَكُلَّ
شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا
29. dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab[5].
شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا
29. dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab[5].
فَذُوقُوا
فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلاَّ عَذَابًا
30. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu
selain daripada azab.
فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلاَّ عَذَابًا
30. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu
selain daripada azab.
Balasan terhadap orang yang bertakwa.
إِنَّ
لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
31. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,
لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
31. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,
حَدَائِقَ
وَأَعْنَابًا
32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,
وَأَعْنَابًا
32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,
وَكَوَاعِبَ
أَتْرَابًا
33. dan gadis-gadis remaja yang sebaya,
أَتْرَابًا
33. dan gadis-gadis remaja yang sebaya,
وَكَأْسًا
دِهَاقًا
34. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
دِهَاقًا
34. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
لاَّ
يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلاَ كِذَّابًا
35. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula
perkataan) dusta.
يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلاَ كِذَّابًا
35. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula
perkataan) dusta.
جَزَآءً
مِّن رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًا
36. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,
مِّن رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًا
36. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,
رَبِّ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَنِ لاَ يَمْلِكُونَ مِنْهُ
خِطَابًا
37. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya;
Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَنِ لاَ يَمْلِكُونَ مِنْهُ
خِطَابًا
37. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya;
Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.
Perintah agar manusia memilih jalan yang
benar kepada Tuhannya.
benar kepada Tuhannya.
يَوْمَ
يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَآئِكَةُ صَفًّا لاَّ يَتَكَلَّمُونَ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ
لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا
38. Pada hari, ketika ruh[6] dan para
malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang
telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan
kata yang benar.
يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَآئِكَةُ صَفًّا لاَّ يَتَكَلَّمُونَ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ
لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا
38. Pada hari, ketika ruh[6] dan para
malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang
telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan
kata yang benar.
ذَلِكَ
الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَن شَآءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآبًا
39. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya
ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.
الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَن شَآءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآبًا
39. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya
ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.
إِنَّا
أَنذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ
وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا
40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa
yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua
tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah
tanah”.
أَنذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ
وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا
40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa
yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua
tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah
tanah”.
PENUTUP
Surat
An-Naba’ menerangkan pengingkaran orang-orang musyrik terhadap hari berbangkit,
ancaman Allah terhadap sikap mereka, azab yang akan mereka terima di hari
kiamat serta kebahagiaan orang-orang yang beriman.
An-Naba’ menerangkan pengingkaran orang-orang musyrik terhadap hari berbangkit,
ancaman Allah terhadap sikap mereka, azab yang akan mereka terima di hari
kiamat serta kebahagiaan orang-orang yang beriman.
HUBUNGAN
SURAT AN-NABA’ DENGAN SURAT AN-NAAZI’AAT:
SURAT AN-NABA’ DENGAN SURAT AN-NAAZI’AAT:
1.
Surat An-Naba’ menerangkan ancaman Allah terhadap sikap orang-orang musyrik
yang mengingkari adanya hari berbangkit, serta mengemukakan bukti-bukti adanya
hari berbangkit, sedang pada surat An-Naazi’aat Allah bersumpah bahwa hari
kiamat yang mendahului hari berbangkit itu pasti terjadi.
Surat An-Naba’ menerangkan ancaman Allah terhadap sikap orang-orang musyrik
yang mengingkari adanya hari berbangkit, serta mengemukakan bukti-bukti adanya
hari berbangkit, sedang pada surat An-Naazi’aat Allah bersumpah bahwa hari
kiamat yang mendahului hari berbangkit itu pasti terjadi.
2.
Sama-sama menerangkan huru-hara yang terjadi pada hari kiamat dan hari
berbangkit.
Sama-sama menerangkan huru-hara yang terjadi pada hari kiamat dan hari
berbangkit.
(1) Yang dimaksud dengan berita yang
besar ialah berita tentang hari berbangkit.
besar ialah berita tentang hari berbangkit.
(2) Ini adalah sanggahan terhadap
pendapat orang-orang kafir Makkah yang mengingkari hari berbangkit dan hari
kiamat.
pendapat orang-orang kafir Makkah yang mengingkari hari berbangkit dan hari
kiamat.
(3) Malam itu disebut sebagai “pakaian”
karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.
karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.
(4) Maksudnya: di neraka Jahannam ada
suatu tempat yang dari tempat itu para penjaga neraka mengintai dan mengawasi
isi neraka.
suatu tempat yang dari tempat itu para penjaga neraka mengintai dan mengawasi
isi neraka.
(5) Yang dimaksud dengan “kitab” di sini
ialah buku catatan amalan manusia.
ialah buku catatan amalan manusia.
(6) Para ahli Tafsir mempunyai pendapat
yang berlainan tentang maksud “ruh” dalam ayat ini. Ada yang mengatakan “Jibril”,
ada yang mengatakan “tentara Allah” dan ada pula yang mengatakan “ruh
manusia”.
yang berlainan tentang maksud “ruh” dalam ayat ini. Ada yang mengatakan “Jibril”,
ada yang mengatakan “tentara Allah” dan ada pula yang mengatakan “ruh
manusia”.
(https://abihumaid.wordpress.com)
